PUANPERTIWI
Women in Action

Tedja Sukma, Merangkai Aksesori Dengan Hati

puanpertiwi.com – Menekuni sesuatu tanpa minat yang besar, ada kalanya jadi gagal berantakan. Namun, saat menemukan hal yang pas di hati, dan dikerjakan sepenuh hati seperti hobi, hasilnya justru luar biasa.

Hal inilah yang dialami oleh nyonya Tedja Sukmawati El Herli Mihardja, dengan produk aksesoris batu-batu permata berlabel Tedja Sukma.

Ibu yang telah menjadi single parent dan memiliki 4 anak ini awalnya memang ingin punya usaha sendiri.

Waktu itu saya bekerja sebagai sekretaris. Ketika anak-anak mulai sekolah di Gontor, saya jadi ingin punya banyak waktu luang. Supaya bisa menengok mereka. Nah, karena saya terikat kerja, hal itu tidak memungkinkan saya sering menengok anak saya di Gontor,” tutur Tedja yang tinggal di Bandung ini.

Awalnya, ia pernah belajar membuat kue-kue. Tapi nggak jalan. Ia belajar menjahit. “Tapi saya ini kan pemalas. Kadang sehari bisa langsung jadi. Tapi ada yang setahun mangkrak,” kenangnya sambil tertawa ceria.

Ketika bertemu seseorang yang andal merangkai perhiasan dari batu-batu permata, Tedja langsung tertarik.

Saya belajar dasarnya dari dia. Saya merasa cocok. Tinggal kreatifitas kita sendiri untuk membuat aksesori itu tampil menarik,” ujar ibu dari Zahra, Faris, Naufal dan Ayra ini melanjutkan.

Mulai pede berkarya

Di tahun 2006 itu dua orang putranya dikirim bersekolah di Gontor, Jawa Timur. “Waktu saya tengok mereka, daripada nganggur, saya iseng bikin perhiasan itu. Eh, tak disangka, ternyata hasil karya saya itu diminati para ibu di sana. Ada gelang, kalung dan aksesoris lainnya.”

Hal itulah yang salah satunya membuat Tedja mulai percaya diri. Merasa bahwa hasil karyanya disukai banyak orang. Pulang ke Bandung ia rajin membuat aksesori dan menawarkan apda temah-temannya. Mereka suka.

Musibah mendadak datang, sang suami meninggal dunia pada tahun 2011 karena sakit jantung. “Saat itulah saya mau tak mau harus berjuang. Karena anak-anak masih kecil dan butuh biaya.”

Ketika itu konsumennya masih terbatas untuk teman-teman saja.

Ia tak tahu bagaimana agar pemasarannya berkembang lebih luas.

Suatu saat saya ditawari untuk ikut bazaar di ITB. Di sana pasar produk saya terbuka. Produk saya laris manis. Waktu itu saya baru sehari melahirkan anak ke 4, tetapi saya nekat, karena ini peluang yang tidak boleh dilewatkan.”

Kredit Bank

Seminggu setelah pameran, banyak pesanan datang. “Saya perlu modal. Untunglah saat saya masih berprofesi sebagai sekretaris, saya banyak berhubungan dengan relasi bank-bank bos saya. Hal ini membantu saya saat saya harus mencari modal. Saya mendapatkan kredit dari bank. Kuncinya satu saja, harus on time saat membayar agar tidak di black list. Hal ini saya pegang erat,” kenang pengusaha yang produknya dijual berkisar 50 ribu hingga 850 ribu per piece ini.

Tedja membuat peluang usaha terutama bagi para konsumennya, perempuan muslim berhijab yang memakai produknya. Merekalah yang kemudian bekerja sama dengannya, memasarkan produk aksesoris Tedja Sukma ke masing-masing daerah tempat tinggalnya.

Dari pameran ke pameran

Meski pasar telah terbuka, Tedja tak hanya berpangku tangan. Dia bergabung dalam kelompok pebisnis untuk berpameran. Jadwalnya, setiap bulan ke luar kota Bandung. “Terkadang hingga satu minggu. Urusan anak-anak di rumah saya serahkan pada ibu, jadi pikiran saya lebih tenang,” ujar perempuan yang membuat sendiri produk aksesorisnya tanpa bantuan karyawan itu. “Karena ini tergantung taste kita, jadi tidak bisa sembarangan dikerjakan orang lain.”

Hampir seluruh Indonesia sudah ia jelajahi untuk berpameran, bahkan juga hingga ke negara-negara ASEAN.

Kalau pameran dari dinas, biasanya kita dapat stand gratis. Tapi kalau harus bayar ya bisa sampai jutaan.”

Hal itu tak membuatnya kecil hati. “Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk membiayai kebutuhan anak-anak dan lainnya,” ujarnya sambil menyebut angka puluhan juta untuk omzet bulanannya.

Tedja memang harus banyak meninggalkan rumah. Tak saja untuk berpameran, namun juga untuk belanja materi, batu-batu permata yang dibutuhkannya.

Sambil merangkainya menjadi aksesori, ia mendapat kepuasan tersendiri dengan hasilnya. Modal lain agar produknya laris manis adalah, “Kecuali bersikap ramah, kita juga perlu tampilan yang rapi dengan aksesori hasil karya kita itu. Yah, serupa promosi atau iklan berjalan, kan?”

Saat ini ia tengah berpameran ke Palembang. Tak dikeluhkannya kalau harus mengangkut tas berat berisi aksesori dari batu-batu hias tersebut. Menjemput rizki harus dilakukan sepenuh hati.

Reporter : Bintang / foto Istimewa

Leave a Response