PUANPERTIWI
Story

Putroe Neng Pembunuh 99 Suami Di Malam Pertama

Puanpertiwi.com – Sebelum seorang sejarawan menulis tentang Putroe Neng mungkin di antara kita  tak tahu siapa perempuan Aceh itu. Dari beberapa sumber artikel yang ada, Putroe Neng merupakan perempuan berdarah Tiongkok. Setelah pemimpin Kerajaan Lamiri meninggal, Putroe Neng melanjutkan misi sang ayah untuk melawan serdadu musuh di Sumatra. Sosok bernama asli Niang Lion Khie ini merupakan perempuan berpangkat Jenderal dan beragama Buddha pada masa itu.

Dan pada saat kerajaannya berhasil dikalahkan oleh pasukan kerajaan Indra Purba, sejak saat itulah Sultan Meurah Johan menikahi Putroe Neng. Putroe Neng kemudian bersedia dan mulai memeluk Agama Islam. Pada abad ke-16 itu, akhirnya Putroe Neng dan Meurah Johan menikah. Namun, kejadian naas menimpa Sultan Meurah Johan. Ia ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Tubuhnya kaku dan bibirnya membiru usai melakukan hubungan intim malam pertama dengan Putroe Neng. Kejadian mengenaskan ini bukanlah kemauan Putroe Neng.

Perempuan itu sedih dan kebingungan saat suaminya tewas usai. Kejadian yang sama berulang setiap ia menikah lagi dan melakukan malam pertama. Dari situ ia dikenal sebagai perempuan yang membunuh 99 suaminya saat malam pertama.

Usut punya usut, ternyata Putroe Neng memiliki racun yang sudah ditanam pada organ kelaminnya. Racun tersebut ditanam oleh neneknya saat ia masih remaja. Sedangkan mantra ilmu hitam yang terkandung dalam racun itu telah dimasukkan ke dalam bambu. Bambu tersebut dibelah menjadi dua bagian. Satu bagian dilempar ke gunung dan potongan lainnya dibuang ke lautan.

Menurut informasi lain, dikisahkan bahwa Syekh Syiah Hudam merupakan sosok guru Putroe yang sudah lama mengajari dan mendidiknya. Tak lama kemudian, Syekh Syiah Hudam melamarnya. Akhirnya, Putroe Neng dan Syekh Syiah Hudam menikah. Yang lebih mengejutkan, Syekh Syiah Hudam mampu menetralisir racun yang ada dalam tubuh Putroe Neng. Suami Putroe yang ke-100 itu pun akhirnya dapat melewatkan malam pertamanya dengan selamat. Syekh Syiah Hudam mampu mengangkat semua mantra ilmu hitam pada istrinya.

Sejalan dengan itu, aura kecantikan Putroe mulai meredup. Selain itu, Syekh Syiah Hudam tidak juga dikarunai keturunan hingga Putroe Neng menjemput ajalnya.

Namun, kebenaran kisah Putroe Neng ini menjadi misteri. Hanya sedikit yang berusaha menggali kebenarannya. Syamsuddin Djalil, budayawan Aceh menyebutkan kisah kematian 99 suami Putroe Neng hanyalah legenda. Walaupun begitu, ia tetap meyakini bahwa sosok Putroe Neng memang ada. Namun kenyataannya, sulit mendapatkan bukti bahwa Putroe Neng memang sempat ditanami ilmu hitam. Kisah Putroe Neng akhirnya ditulis Ayi Jufridar dalam bentuk novel .

Dari kejadian itu, banyak budayawan yang menafsirkan bahwa yang dimaksud 99 suami bukan suami yang sebenarnya. 99 suami tersebut bisa jadi merupakan pasukan musuh yang tewas saat berperang melawan Putroe Neng. Secara logis, ia berpendapat bahwa Putroe Neng tidak mungkin melakukan pernikahan 99 kali dengan rentang waktu yang singkat. Tentunya, hal ini tidak sebanding dengan usianya. Dan juga tidak diketahui secara pasti kapan Putroe Neng meninggal dan bagaimana sejarahnya sampai dia dimakamkan bersama belasan korban perang di Aceh di pemakaman Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Tempat dekat pemakamannya ini sedang disiapkan sebagai lokasi cagar budaya.

Namun, berbeda dengan penjaga makan Putroe Neng yakni Cut Hasan yang mempercayai kisah ini bukanlah sebuah cerita fiktif belaka. Dia bahkan mengakui selama berprofesi sebagai penjaga makam, dia telah mengalami berbagai hal gaib. Hal yang paling diingatnya adalah ketika dia berjumpa dengan Putroe Neng di dalam mimpi.

Ketika itu Putroe Neng memberinya dua keping emas. Paginya, dia betul menemukan dua keping emas berbentuk jajaran genjang dengan setiap sisinya memiliki ukiran. Satu kepingnya dipinjam seorang peneliti dan belum dikembalikan. Sedangkan satunya lagi dia simpan sampai sekarang. Di sekitar pemakaman Putroe memang memiliki mistis yang kuat dimana seorang guru SMA meninggal setelah mengambil foto di kuburan tersebut. Ada yang mengakui dalam foto tersebut tidak terdapat gambar apapun dan hanya ada siluet putih.

Hingga sekarang, masyarakat di daerah tersebut tetap mempercayai kejadian ini. Pemerintah daerah setempat belum menjadikan daerah makam tersebut sebagai tempat kunjungan. Hal ini terlihat karena di dalam petak tanah yang berukuran 20×20 meter persegi tersebut terdapat 11 makam termasuk makam Putroe yang tidak terawat sama sekali. Hingga kini, cerita tentang Putroe Neng masih menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan kebenarannya sama sekali.

Reporter  : Ranov

Leave a Response