Fashion

Liberté, Gaya Mengungkapkan Kebebasan dari Seorang Eddy Betty

Jakarta, puanpertiwi.com – Perancang busana senior Eddy Betty, kembali menyapa penikmat fashion couture dengan 2018 Couture Collection. Sempat vakum 9 tahun membuat Eddy ingin menceritakan kebebasan dalam perjalanan kariernya selama 21 tahun.

Eddy Betty yang terkenal dengan ciri khas gaun pengantin couturenya, kali ini mengeluarkan koleksi yang selama ini tertahankan. Mulai dari bahan, konsep, hingga persiapan yang dulu selalu ditahan-tahan untuk dikeluarkan, kini bebas muncul dihadapan publik. Bustier yang telah menjadi identitas karya Eddy Betty, menyiratkan kebebasannya dalam berekspresi. Merasuk menjadi “a Piece of Art”.

Pagelaran adi busana Eddy Betty kali ini bertajuk “Liberté”. Dikutip dari bahasa Perancis, Liberté yang bermakna kebebasan, memperlihatkan imajinasi Eddy dari rasa dan buah pikir secara bebas akan keindahan mode masa lalu. Dalam sentuhan tangannya, kebebasan itu yang menjadi lestari karena diingat sepanjang waktu.

“Vakum fashion show tunggal selama 9 tahun membuatku lebih merasa bebas dalam menuangkan imajinasiku dalam berkarya. Liberté sendiri hadir sekarang dan menceritakan kenangan perjalanan ku berkarya selama 21 tahun dari tahun 1996 hingga saat ini. Bebas berkarya tapi tidak kebablasan, tetap ada DNA Eddy Betty didalamnya” ujar Eddy Betty saat ditemui di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (20/09).

Sebanyak 79 set busana koleksi terkini Eddy Betty menawarkan ragam bentuk pola yang pipih, lekat, longgar teramu diatas bahan multi karakter. Pemilihan warna pun Eddy terpaku dalam rentang palet yang luas.

Beraneka siluet dimainkan pada bahan tebal, tipis, kasar, halus dengan warna-warna lembut dan terang seperti krem, hijau, biru. Warna-warna ini pun dihidupkan dengan hadirnya warna-warna menyala semacam kuning kenari, biru terang, hitam, keperakan, keemasan, sampai jingga, yang tersaji menjadi baris busana indah.

Eddy menciptakan bustier atau korset yang telah dikenal merupakan identitas karyanya, sebagai benang merah dalam peragaan ini. Bustier ditampilkan oleh Eddy Betty dengan kesan ringan dan seksi, serta digabungkan dengan gaya peplum yang mekar beruntuk menggambarkan keanggunan.

“Aku selalu pake Bustier dari awal sekolah desain sampai sekarang disetiap koleksiku. Peragaan kali ini tetap eksplore bustier dan long torso yang lebih terlihat di luar baju. Apa yang ingin dicapai dengan bustier adalah kebebasan dalam sisi busana perempuan,” ungkap Eddy Betty.

Yang selalu ditahan-tahan oleh Eddy muncul melalui bahan yang tidak lazim sebagai bahan baju untuk mengekspresikan kebebasannya.Penggunaan violette yang sesungguhnya adalah cadar topi dipilih Eddy dalam bahan pakaiannya. Pilihan bahan kaku, toile de jouy yang umumnya digunakan oleh kelas menengah pada abad 18 sebagai bahan tirai, jok, seprai atau apron, pun dipilih Eddy yang senang melawan arus trend.

Kebebasan tercermin dalam busana-busana koktail yang beraneka motif dan penuh warna. Ragam corak geometris, coret-coret kuas dengan percikan tinta emas, tampil ringan tanpa beban dalam koleksi terbaru Eddy Betty. Kemampuan sang desainer untuk mendorong jauh tiap rancangannya dari kelumrahan ini lah yang menjadikan gaun-gaun klasik ala Eddy Betty menghembuskan nafas glamor keelokan masa kini.

Reporter: Dian
Foto: TIM MUARA BAGDJA

Leave a Response